Dentuman keras ada dalam benakku. Kini aku dan kamu bersama dalam rintiknya air hujan. Tak ada kesamaan sekali lagi dengan bentuk yang sama. Akan tetapi aku dan kamu mampu melewatinya dengan seksama. Kali ini matahari jingga dan matahari senja tak panas sesuai dengan cuaca. Akan tetapi manisnya kopi yang kau hirup menandakan sekali lagi perjumpaan kalian sebagai seorang pemuda. Dalam temaram aku menyaksikan lagi purnama kedua. Dan bersamamu aku berasa seperti di surga.
Tak ada niatku untuk membencimu akan tetapi aku sangat mencintaimu dalam diam. Tidak cuma itu aku mencintaimu dengan kata sangat dan tak ada jeda. Dalam hati aku terngiang sekali lagi. Bahwa aku mencintaimu dengan segala kekuranganku. Lain lagi dengan kebersamaan ini sangatlah indah dan menawan. Tak ada yang dapat melukiskan kita akan tetapi selalu ada tangan Tuhan yang menyegerakan aku dan kamu untuk bersama. Tak ada puisi yang cukup indah untuk kujelaskan padamu. Hanyalah ini sebait puisi yang akan menemani malammu :
Kini aku berada dalam bait yang sama
Tak peduli aku dan kamu
Ada nama kita disana
Berdua menunggu takdir
Dan akan tetapi menjadi takdir yang ilahi
Tak seharusnya aku berada
Dalam bait jingga dan senja
Kini aku bersamamu dalam sisa waktuku
Tak peduli siapapun dapat memikirkannya
Karena aku
Peduli padamu
Ini adalah sekumpulan bait jingga dan senja. Tak terlebih lagi aku memikirkanmu dalam basuhan sang purnama. Berikut lirik lagu yang sedang kudengar bersama rintihan hujan.